BAGAIMANA OBAT BEKERJA?

  1. A.   LEARNING OBJECTIVE
  2. Bagaimanakah mekanisme kerja obat?
  3. Apa saja cara pemberian obat?
  4. Jelaskan tentang obat yang bekerja secara agonis dan antagonis?
    1. B.   PENYELESAIAN
    2. Mekanisme kerja obat (nasib obat didalam tubuh) adalah
      1. Farmasetis

Untuk mendapatkan respon, obat harus dipecah terlebih dahulu menjadi molekul kecil. Misalnya dengan disolusi dan disintegrasi. Dalam fase ini, yang penting adalah ketersediaan farmasi dari zat aktifnya, yaitu obat siap untuk diabsorbsi.

  1. Farmakokinetik
  2. Absorbsi

Obat, untuk dapat menimbulkan aksi dan menghasilkan efek, terlebih dahulu harus diabsorbsi. Proses absorbsi meliputi masuknya obat hingga sampai ke aliran darah.

  1. Absorbsi pada injeksi intravena

Injeksi larutan obat secara langsung ke aliran darah memberikan prediksi respon farmakologik yang lebih baik.

  1. Absorbsi pada injeksi intramuscular dan subkutan

Absorbsi pada kedua injeksi ini akan lebih cepat jika diberikan dalam bentuk cairan. Kecepatan absorbsinya tergantung pada vaskularisasi di wilayah tubuh yang diinjeksi. Faktor lainnya yang mempengaruhi adalah konsentrasi obat, derajat ionisasi dan bentuk lipid nonion, serta wilayah injeksi.

  1. Absorbsi topikal

Pertama, obat dilepaskan lalu akan melakukan penetrasi ke lapisan keratin atau stratum korneum dan akhirnya ditangkap oleh kapiler darah.

  1. Absorbsi pulmonari

Gas dan cairan volatil untuk anestesi diberikan yang diberikan melalui inhalasi akan cepat diserap oleh sistem sirkulasi dengan cara difusi melalui epitelium alveoli.

  1. Absorbsi peroral

Pertama, obat mengalami disolusi atau pemecahan obat dari bentuk solid. Caranya bermacam-macam, diantaranya mengubah obat menjadi bentuk garam, memperkecil bentuk partikel atau terkadang menggunakan teknik micronization. Setelah tahap ini, obat harus stabil di lingkungan lambung dan intestinum. Selanjutnya akan mengalami proses difusi di membran mukosa gastrointestinal menuju vena porta hepatika. Dalam proses-proses tersebut ada kemungkinan terjadi penurunan jumlah obat yang dpat mencapai sistem sirkulasi.

(Adams, 2001)

  1. Distribusi

Obat disampaikan ke reseptor melalui sistem sirkulasi dan mencapai target reseptor yang dipengaruhi oleh aliran darah dan konsentrasi jumlah darah di reseptor tersebut. Konsentrasi obat di suatu sel dipengaruhi oleh kemampuan obat berpenetrasi ke dalam kapiler endotelium (tergantung ikatan obat dengan protein plasma) dan difusi melalui membran sel. Distribusi obat di darah, organ dan sel tergantung dosis dan rute pemberian, lipid solubility obat, kemampuan berikatan dari protein plasma dan jumlah aliran darah ke organ dan sel.

(Adams, 2001)

  1. Biotransformasi (metabolisme)

Kebanyakan obat akan mengalami biotransformasi dan dulu agar dapat dikeluarkan dari tubuh. Pada azasnya, tiap obat adalah zat asing yang tidak diinginkan tubuh, sehingga tubuh berusaha merombak zat tersebut menjadi metabolit yang bersifat hidrofil agar lebih lancer diekskresikan melalui ginjal, jadi reaksi biotransformasi merupakan peristiwa detoksikasi. Biotransformasi berlangsung terutama di hati, saluran pencernaan, plasma dan mukosa intestinal.

Perubahan yang terjadi disebabkan oleh reaksi enzim dan digolongkan menjadi 2 fase, yatiu fase pertama merupakan reaksi perubahan yang asintetik (reasksi oksidasi, reduksi dan hidroksi) dan fase kedua merupakan reaksi konjugasi.

Metabolisme dapat berpengaruh terhadap aktivitas biologi dari obat dengan bermacam-macam cara. Kebanyakan aktivitas farmakologi dapat menurun atau hilang setelah mengalami metabolisme. Hal tersebut dapat digunakan untuk menentukan lama maupun intensitas aksi obat.

(Arief, 2007)

  1. Ekskresi

Organ yang paling penting untuk ekskresi obat adalah ginjal. Obat diekskresikan dalam struktur tidak berubah atau sebagai metabolit. Jalan lain yang utama adalah elimiasi obat melalui sistem empedu masuk ke dalam usus kecil, obat atau metabolitnya dapat mengalami reabsorbsi (siklus enterohepatik) dan eliminasi dalam feses. Jalur ekresi dalam jumlah sedikit adalah melalui air ludah dan air susu. Zat yang menguap seperti gas anestesi berjalan melalui epitel paru-paru.

(Arief, 2007)

  1. Farmakodinamik

Fase farmakodinamik merupakan terjadinya interaksi obat dengan tempat aslinya dalam sistem biologi, aksi struktur khusus obat, potensinya berhubungan dengan interaksi yang terjadi dengan struktur khusus letaknya.

  1. Efek

Bentuk sediaan obat yang diberikan akan mempengaruhi kecepatan dan efek terapi obat. Bentuk sediaan obat dapat memberi efek obat secara lokal atau sistemik. Efek sistemik diperoleh jika obat beredar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah, sedang efek lokal adalah efek obat yang hanya bekerja setempat, misalnya salep.

  1. Efek sistemik dapat diperoleh dengan cara :
    1. Oral melalui saluran gastrointestinal atau rectal
    2. Parenteral dengna cara intravena, intramuscular dan subkutan
    3. Inhalasi langsung ke dalam paru-paru
    4. Efek lokal dapat diperoleh dengan cara :
      1. Intraikular, intranasal, aural, dengan cara diteteskan pada mata, hidung, telinga
      2. Intrarespiratorial, berupa gas masuk paru-paru

(Arief, 2007)

  1. Cara pemberian obat adalah
    1. Per oral

Cara pemberian obat lewat mulut dan yang paling umm dilakukan. Obat yang diberikan lewat mulut dapat berbentuk tablet dan kapsul. Keuntungan dari per oral adalah mudah, aman, stabil, tahan lama, kandungan seragam, non steril dan murah. Kerugiannya adalah bioavaibilitasnya banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, iritasi pada saluran pencernaan, dan perlu kerjasama dengan penderita (tidak bisa diberikan pada penderita koma).

  1. Parenteral

Cara pemberian obat dengan cara suntikan. Keuntungannya adalah efek timbul lebih cepat dan teratur; dapat diberikan pada penderita yang tidak kooperatif, tidak sadar, atau muntah-muntah; sangat berguna dalam keadaan darurat. Kerugiannya adalah dibutuhkan kondisi asepsis, menimbulkan rasa nyeri , tidak ekonomis, membutuhkan tenaga medis. Parenteral meliputi intravena, intramuscular, subcutan dan intrathecal.

Intravena tidak mengalami tahap absorbsi. Obat langsung dimasukkan ke pembuluh darah sehingga kadar obat didalam darah diperoleh dengan cepat, tepat dan dapat disesuaikan langsung dengan respons penderita. Kerugiannya adalah obat yang sudah diberikan tidak dapat ditarik kembali, sehingga efek toksik lebih mudah terjadi. Jika penderita alergi akan lebih terjadi. Pemberian intravena harus dilakukan perlahan-lahan sambil mengawasi respons penderita.

Pada intramuscular, kelarutan obat dalam air menentukan kecepatan dan kelengkapan absorbsi. Obat yang sukar larut seperti dizepam dan penitoin akan mengendap di tempat suntikan sehingga absorbsinya berjalan lambat, tidak lengkap dan tidak teratur. Obat yang larut dalam air lebih cepat diabsorbsi. Tempat suntikan yang sering dipilih adalah gluteus maksimus dan deltoid.

Pada daerah subcutan hanya boleh dilakukan untuk obat yang tidak iritatif terhadap jaringan. Absorbsi biasanya berjalan lambat dan konstan, sehingga efeknya bertahan lebih lama. Absorbsi menjadi lebih lambat jika diberikan dalam bentuk padat yang ditanamkan dibawah kulit atau dalam bentuk suspensi. Pemberian obat bersama dengan vasokonstriktor juga dapat memperlambat absorbsinya.

Untuk intrathecal, obat langsung dimasukkan kedalam ruang subaraknoid spinal, dilakukan bila diinginkan efek obat yang cepat dan setempat pada selaput otak atau sumbu cerebrospinal seperti pada anestesia spinal atau pengobatan infeksi sistem saraf pusat yang akut.

  1. Inhalasi

Inhalasi adalah proses melalui paru-paru. Inhalasi hanya dapat dilakukan untuk obat yang berbentuk gas atau cairan yang mudah menguap. Misalnya anestesi umum dan obat lain yang dapat diberikan dalam bentuk aerosol. Absorbsi terjadi melalui epitel paru dan mukosa saluran nafas. Absorbsi terjadi secara cepat karena permukaan absorbsinya luas, tidak mengalami metabolisme lintas pertama di hati. Metode ini lebih sulit dilakukan, memerlukan alat dan metode khusus, sukar mengaturya dosis dan sering mengiritasi paru.

  1. Topikal

Topikal adalah sediaan untuk keperluan luar tubuh yang bekerja sebagai agen protektif bagi kulit atau sebagai pembawa obat. Dalam bentuk ini yang terpenting adalah saleb dan krim. Topikal sering dilakukan terutama pada kulit dan mata. Pemberian topikal pada kulit terbatas pada obat-obat tertentu karena tidak banyak obat yang dapat menembus kulit yang utuh. Jumlah obat yang diserap tergantung pada luas permukaan kulit yang kontak dengan obat serta kelarutan obat dalam lemak. Peberian topikal pada mata dimaksudkan untuk mendapatkan efek lokal pada mata, yang biasanya memerlukan absorbsi obat melalui kornea.

(Hsu.walter h. 2008)

  1. Supositoria (rektal)

Supositoria adalah bentuk sediaan yang didisain untuk diberikan lewat jalur rektal, baik untuk maksud mendapatkan efek lokal atau sistemik.

  1. Pesaria (vaginal)

Pesaria adalah bentuk sediaan yang didisain untuk diberikan untuk lewat jalur vagina.

  1. Obat yang bekerja secara agonis dan antagonis adalah
    1. Agonis

Dapat didefinisikan bahwa agonis adalah obat yang mempunyai afinitas kimia terhadap reseptor dan membentuk suatu kompleks dan sebagai hasilnya akan mengubah fungsi (Arief, 2007).

Ada 2 macam agonis, yaitu full agonist dan partial agonist. Full agonist menimbulkan respons maksimal dengan cara menempati reseptor. Sedangkan partial agonist  tidak dapat menimbulkan respon maksimal walaupun menempati semua fraksi dari reseptor.

Afinitas adalah tendensi suatu obat untuk berikatan dengan reseptor, dimana aktivitas intrinsic berarti efek maksimal yang dapat diproduksi oleh obat. Potensi obat diartikan dosis yang harus diberikan untuk memeberikan efek. Potensi dipengaruhi oleh afinitas obat dengan reseptor serta proses farmakokinetik.

(Adams, 2001)

  1. Antagonis

Antagonis adalah jenis obat yang memblokir respon dari agonis. Obat antagonis berinteraksi dengan reseptor atau komponen lain dari efektor, namun tidak memiliki aktifitas intrinsik.

Ada 4 macam antagonisme obat :

  1. Antagonisme kimiawi

Interaksi atau reaksi kimiawi / fisikokimiawi dari 2 obat.

  1. Antagonisme fungsional

Antagonisme antara 2 agonis yang efeknya berlawanan, dapat bekerja pada jaringan yang sama.

  1. Antagonisme kompetitif

Antagonisme antara agonis dan antagonis (obat-obat yang hampir sama rumus kimianya) yang dapat mengadakan interaksi dengan reseptor yang sama, tapi dengan afinitas dan aktifitas intrinsik yang berbeda.

  1. Antagonisme kompetitif ekuilibrium (reversibel)

Agonis dan antagonis memperebutkan reseptor yang sama, interaksi dengan reseptor bersifat reversibel.

  1. Antagonisme kompetitif non ekuilibrium

Agonis dan antagonis memperebutkan reseptor yang sama, ikatan yang terjadi antar antagonis dan reseptor sangat kuat sehingga sulit dilepas.

  1. Antagonisme non kompetitif

Agonis dan antagonis bekerja pada tempat yang berlainan namun pada reseptor yang sama (titik reaksinya berbeda).

 

Daftar Pustaka

Adams, H Richard. 2001. Veterinary Pharmacology and Therapeutics 8th edition. Blackwell Publishing.

Arief, Moh. 2007. Farmasetika. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Hsu.walter h. 2008. Handbook of vet pharmacology. America : Wiley blackwell

UNIT TERKECIL PADA MAKHLUK HIDUP_Blok 7 UP 1

A. LEARNING OBJECTIVE
1. Bagaimana morfologi, struktur dan fungsi sel?
2. Apakah perbedaan prokariotik dan eukariotik?
3. Apa yang dimaksud apoptosis?
B. PENYELESAIAN
1. Morfologi, struktur dan fungsi sel adalah
Tiap sel dikelilingi oleh membran tipis yang disebut membran sel / membran plasma / membran sitoplasma yang bersifat permeabel-selektif. Membran ini mengangkut nutrien dan garam yang dibutuhkan ke dalam sel dan produk buangan dari sel ke luar. Di dalam tiap sel juga terdapat sitoplasma, tempat berlangsungnya hampir semua reaksi enzimatis dan metabolisme sel. Sitoplasma ini terdiri atas medium semicair yang disebut sitosol, yang di dalamnya terdapat organel-organel yang mempunyai bentuk dan fungsi terspesialisasi (Lehninger, 1982).
Organel (cytoplasmic organelle) adalah organ sel yang bersifat submikroskopik dan berperan dalam metabolisme sel. Strukturnya dapat murni atau dalam kombinasi seperti halnya lipoprotein, glikoprotein, proteoglikan atau mukoportein. Berbagai bahan anorganik seperti ion kalsium, natrium dan kalium juga terdapat dalam senyawa tersebut. Berbagai komponen itu berperan dalam melaksanakan fungsi sel, serta usaha menyesuaikan diri dengan lingkungannya (Dellmann dan Brown, 1992).
Organel yang terdapat di dalam sel adalah :
A. Nukleus
Nukleus mengandung sebagian besar gen yang mengontrol sel eukariotik. Umumnya merupakan organel yang mencolok. Di dalam nukleus, DNA diorganisasikan bersama dengan protein menjadi materi yang disebut kromatin. Sewaktu sel bersiap untuk membelaah, kromatin akan memadat menjadi kromosom. Struktur yang menonjol di dalam nukleus yang tidak sedang berkembang adalah nukleolus yang merupakan tempat ribosom disintesis dan dirakit.
B. Ribosom
Ribosom membangun protein dalam dua lokasi sitoplasmik. Ribosom bebas tersuspensi dalam sitosol, sementara ribosom terikat dilekatkan pada bagian luar jaringan yang disebut retikulum endoplasmik. Sebagian besar protein yang dibuat oleh ribosom bebas akan berfungsi di dalam sitosol. Ribosom terikat umumnya membuat protein untuk dimasukkan ke dalam membrane, untuk pembungkusan dalam organel tertentu seperti lisosom, atau untuk dikirim ke luar sel.
C. Retikulum endoplasmik (RE)
Berupa suatu membran labirin yang membentuk gelembung dan kantung pipih yang memisahkan kandungan RE dari sitosol. Ruangan di dalam RE disebut cisternae yang berfungsi sebagai saluran untuk mengangkut berbagai produk ke seluruh bagian sel. Akan tetapi, dalam beberapa sel cisternae berfungsi sebagai ruang penyimpanan.
Terdapat dua jenis RE, yaitu kasar dan halus. Pada RE kasar, permukaanya dipenuhi oleh ribosom, berfungsi untuk sintesis protein sekretoris. Sedangkan pada RE halus tidak dilengkapi oleh ribosom. RE halus berfungsi dalam bermacam-macam proses metabolisme, termasuk sintesis lipid, metabolisme, karbohidrat, dan menawarkan obat dan racun (Campbell, 2002).
D. Apparatus Golgi

Apparatus Golgi terdiri dari kantung membran pipih yang tampak sebagai tumpukan roti pita. Di sekitarnya terdapat vesikula yang berperan dalam transfer materi di antara Golgi dan struktur lainnya. Kedua kutub tumpukan Golgi disebut sebagai muka cis dan muka trans yang masing-masing bertindak sebagai bagaina penerima dan pengirim pada apparatus Golgi. Muka cis biasanya terletak di dekat RE. Vesikula transpor memindahkan materi dari RE ke Golgi. Vesikula yang bertunas dari RE akan menambah membrannya dan kandungan lumen ke muka cis dengan cara berfusi dengan membran Golgi. Muka trans menghasilkan vesikula yang akan tercabut dan pindah ke tempat lain (Campbell, 2002).
RE dan Golgi umumnya berkerja sama dalam memproduksi lisosom yang mengandung enzim aktif.
E. Lisosom
Lisosom merupakan kantung terikat membran dari enzim hidrolitik yang digunakan oleh sel untuk mencerna makromolekul. Terdapat enzim lisosom yang dapat menghidrolisis protein, polisakarida, lemak dan asam nukleat. Enzim ini bekerja sangat baik pada lingkungan asam, kira-kira pada pH 5.Enzim hidrolitik dan membran lisosom dibuat oleh RE kasar dan kemudian ditransfer ke apparatus Golgi untuk proses lebih lanjut.

Lisosom berfungsi dalam percernaan intraaseluler pada berbagai keadaan. Selama fagositosis, sel mengurung makanan makanan dalam vakuola dengan membrane plasma. Vakuola makanan bergabung dengan lisosom, dan enzim hidrolitik mencerna makanan tersebut. Setelah hidorolisis, gula sederhana, asam amino dan monomer lain melewati membrane lisosom untuk menuju ke dalam sitosol sebagai nutrien untuk sel tersebut (Campbell, 2002).
F. Mitokondria

Mitokondria dijumpai pada hampir semua sel eukariotik. Dalam beberapa kasus, terdapat mitokondria besar tunggal, tetapi sering ditemukan ialah sel yang memiliki ratusan atau bahkan ribuan mitokondria, jumlahnya berkorelasi dengan tingkat aktivitas metabolisme selnya.
Mitokondria dibungkus oleh suatu selubung yang terdiri dari dua membran, masing-masing berupa bilayer fosfolipid yang mempunyai kumpulan protein yang tertanam unik. Membran luar halus, tetapi membran dalamnya berlekuk-lekuk dan disebut krista. Membran dalam membagi mitokondrion menjadi dua ruangan internal. Yang pertama berupa ruangan intermembran, daerah sempit antara membran dalam dan membran luar. Ruangan kedua, matriks mitokondria, dilingkupi oleh membran dalam. Sebagian langkah metabolisme respirasi seluler terjadi dalam matriks ini, tempat banyak enzim yang berbeda dikonsentrasikan. Protein lain yang berfungsi dalam respirasi, termasuk enzim yang membuat ATP, sudah terdapat di dalam membran-dalam. Krista membuat membran-dalam mitokondria mempunyai suatu permukaan yang luas yang bisa meningkatkan prodiktifitas respirasi seluler.
G. Peroksisom
Struktur ini juga dikenal sebagai microbodies, berukuran lebih besar dari lisosom, hanya mempunyai membran tunggal di bagian luar, dan mengandung banyak protein, umumnya dalam bentuk kristal. Di dalam struktur ini terkumpul enzim yang membentuk dan menggunakan hidrogen peroksida, sebab itu dinamakan peroksisom. Hidrogen peroksida (H2O2) yang bersifat amat beracun terhadap kehidupan sel, diuraikan menjadi air dan oksigen di dalam peroksisom yang disebut katalase. Dengan adanya enzim pembentuk hidrogen peroksida dan katalase di dalam peroksisom, bagian sel lainnya dilindungi dari pengaruh perusakan oleh peroksida. (Lehninger, 1982)
H. Sitoskeleton
Sitoskeleton memberi tumpukan struktural pada sel dan juga berfungsi dalam motilitas dan pengaturan sel. Sitoskeleton terbuat dari mikrotubula, mikrofilamen dan filamen intermediet. Mikrotubula berupa silinder berongga; mikrotubula ini menyebar dari sentrosom, suatu daerah di dekat nukleus yang meliputi dua sentriol dalam banyak sel hewan. Mikrotubula ini memberi bentuk sel, menuntun gerakan organel dan membantu pemisahan kromosom pada saat pembelahan sel. Silia dan flagella merupakan alat bantu gerak yang berisi doublet mikrotubula yang digerakkan saling melewati satu sama lain. Mikrofilamen berupa batang tipis yang tersusun dari protein aktin; mikrofilamen ini berfungsi pada kontraksi otot, pergerakan amuboid, pengaliran sitoplasma dan tumpuan untuk tonjolan seluler. Filamen intermediet mendukung bentuk sel dan membuat organel tetap di tempatnya.
I. Sentriol
Merupakan organel sel yang terdiri ataus dua perangkat mikrotubula. Setiap perangkat sentriol terdiri atas Sembilan mikrotubula kembar tiga berbentuk silinder. Kedua perangkat sentriol tersebut tersusun berhadapan membentuk sudut tegak lurus. Sentriol berfungsi pada saat pembelahan sel.
J. Silia dan flagella
Banyak organisme eukariotik uniseluler bergerak di air dengan bantuan silia dan flagella, dan sperma hewan, algae serta sejumlah tumbuhan. Silia biasanya muncul dalam jumlah banyak pada permukaan sel. sedangkan flagella jumlahnya lebih terbatas hanya satu atau beberapa untuk setiap sel, namun ukurannya lebih panjang. Flagella memiliki gerak berombak-ombak yang menghasilkan gaya searah dengan sumbu flagella. Sedangkan silia berkerja seperti dayung.
Tabel fungsi utama organel-organel sel:
Komponen Fungsi
Nukleus Menyimpan informasi genetika, mengendalikan aktivitas sel
RE Menyimpan dan mendistribusikan materi, tempat sintesis protein dan lemak
Ribosom Tempat sintesis protein
Mitokondria Mengubah energi kimia untuk metabolisme sel
Plastida Mengubah energi cahaya menjadi energi kimia, menyimpan cadangan makanan
Badan golgi Memproses dan mendistribusikan materi, sintesis lisosom
Vakuola Tempat penyimpanan makanan dan komponen lainnya, pemompa air ke luar sel
Mikrofilamen dan mitokondria Struktur seluler, pergerakan internal dari bagian-bagian sel
Silia dan flagel Pergerakan sel
Vesikel Tempat pencernaan intraseluler, penyimpanan, dan transport
(Sudjadi, 2005)
2. Perbedaan prokariotik dan eukariotik adalah

Gambar sel prokariotik Gambar sel eukariotik
 Sel prokariotik : sel yang tidak memiliki nukleus. Materi genetiknya (DNA) terkonsentrasi pada suatu daerah yang disebut nukleoid, tetapi tidak ada membran yang memisahkan daerah ini dari bagian sel lainnya. (Campbell, 2002)
 Sel eukariotik : sel yang memiliki nukleus yang dibungkus oleh selubung nukleus. Seluruh daerah di antara nukleus dan membran yang membatasi sel disebut sitoplasma. (Campbell, 2002)
Tabel perbandingan sel prokariotik dan sel eukariotik:
Komponen Sel Prokariotik Sel Eukariotik
Dinding sel Ada Tidak ada (hewan), ada (tumbuhan)
Sentriol dan mikrotubula Tidak ada Ada (hewan), tidak ada (tumbuhan)
Kloroplas Ada Ada
Materi genetik Kromosom tunggal (ADN) Banyak kromosom (ADN+protein)
Silia Tidak ada Ada
Sitoskeleton Tidak ada Ada
RE Tidak ada Ada
Flagel Ada Ada (pada beberapa sel)
Badan golgi Tidak ada Ada
Lisosom Tidak ada Ada
Mitokondria Tidak ada Ada
Nukleus Tidak ada Ada
Membran plasma Ada Ada
Ribosom Ada Ada
Vakuola Ada Ada
Vesikel Ada Ada
(Sudjadi, 2005)
3. Apoptosis adalah kematian sel terprogram yang merupakan proses penting dalam pengaturan homeostasis normal, proses ini menghasilkan keseimbangan dalam jumlah sel jaringan tertentu melalui eliminasi sel yang rusak dan proliferasi fisiologis dan dengan demikian memelihara agar fungsi jaringan normal. Deregulasi apoptosis mengakibatkan keadaan patologis, termasuk proliferasi sel secara tidak terkontrol seperti dijumpai pada kanker. (Kresno SB, 2001)
Peristiwa apoptosis tidak akan mengganggu fisiologi tubuh organisme. Juga tidak akan mengurangi jumlah sel dalam satu individu. Hal itu dikarenakan peristiwa apoptosis selalu diikuti dengan pertambahan jumlah sel melalui mekanisme reproduksi sel.

Daftar Pustaka
Campbell, Neil A, Jane B Reece dan Lawrence G Mitchell. 2002. Biologi. Jakarta : Erlangga.
Dellmann, H.D. & Esther M. Brown. 1992. Buku Teks Histologi Veteriner. Jakarta : Universitas Indonesia.
Kresno SB. Ilmu onkologi dasar. Bagian patologi klinik FKUI. 2001 ; 13-15
Lehninger, Albert L. 1982. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Sudjadi, Bagod. 2005. Biologi. Surabaya : Yudhistira